Jumat, 30 Desember 2016

Ada Kalanya Aku RINDU

  
Sepi
Dingin membungkus malam, membekukan hati
Nyanyian jangkrik pun tak berani unjuk diri
Entah mengapa detik jam tak terdengar lagi
    Masih sunyi, di sini
   Sungguh, bukan karena aku menanti
   Juga bukan karena sedang sendiri
   Karena pikiran melayang pergi
Sampai kapan hati tetap membeku
Padahal hening telah berlalu
Tak ingin jawabannya ‘kamu’
Bukan milikku…
   Aku tahu
   Aku tidak menunggu
   Namun tidak juga berlalu
   Bodohnya aku!

Selasa, 20 September 2016

Lagu itu…



Ku putar lagu itu
Tanpa sadar itu mengungatkanku
Lalu perlahan memori membayangi
Tak mau pergi
Bahkan saat music berhenti
Kau tetap di sini, di hati
Oh, benarkah kau sudah di hati?
Ingin bertemu, melihatmu
Walau ku mau tapi tak mampu
Lebih tepatnya tak bisa. Lalu bagaimana?
                Music mengalun lagi
Namun aku tak membuatnya berhenti
Biarlah, untuk sesaat aku ingin mengenangmu
Walau ku tahu itu sangat membuang waktu
Ku harap kau tahu
Aku masih menunggumu
                Hahaha… penantian yang sia-sia!
                Tapi bodohnya aku tetap menunggu
Mengenangmu


*untuk-orang-yang-silih-berganti-datang-pergi-di-hati

Jumat, 02 September 2016

Gelembung udara, Bunga, dan Nyawa




Intinya mereka sama
Berharga. Menyenangkan memilikinya
Menepuk gelembung udara untuk kesenangan belaka
Memetik bunga tidak pada saatnya
Menghilangkan nyawa sebelum waktunya
Apa itu melanggar takdir/
Atau memang sudah ditakdirkan begitu akhirnya
Ah! Tuhan tidak menyukai suatu hal yang buruk
Menepuk gelembung udara-memetik bunga-menghilangkan nyawa
Mereka semua buruk, kan?
Kalau itu takdir, pasti mengada-ada!
Untuk menghilangkan pandangan buruk orang
                Sudah tau kenapa bertanya?
Memastikan!
Aku bingung mengenai mereka
Mereka sudah ditakdirkan, kan?
Hmmm… bisa dibilang begitu
Atau, anggap saja begitu
Mereka pada akhirnya akan sama
Meletus-layu-mati
Lalu mengapa repot-repot mendahului takdir?

Rabu, 17 Agustus 2016

Zona Nyamanku

Aku kehilangan kosa kata
Lupa caranya komunikasi dengan sesama
Aku terlalu nyaman dengan hidupku
Menyendiri terlihat ramai bagiku
Dalam pikiran dan imajinasiku
Jangan coba-coba mengganggu
Melintasi duniaku
   Ada kalanya aku butuh teman
   Tak perlu banyak. cukup satu
   Yang mau mendengar keluh kesahku
   Yang mau mengerti diriku
   Untuk ku katakan bahwa ini bukan mauku
   Hanya tak suka mereka menuduhku
Kadang ku bosan bercerita dengan buku
Menari dengan pena
Bermalam dengan tinta
Bosan dengan rutinitas itu
   Lalu ku sadar tak cukup hanya satu
   Aku ingin bertemu orang baru
   Membuang penatku
   Membagi kegelisahanku
Untuk sementara waktu
Aku ingin hidup tanpa penat mengganggu

Penekanan_Life undercontrol

Ditekan dan ditekan lagi
Selalu hidup dibawah tekanan
Stres mendengarnya. Stres melakukannya
Aku ingin hidup bebas. Lepas
Kenapa kalian menekanku
Untuk melakukan ini itu
Aku tidak mau
Aku bosan. Aku lelah. Aku marah
Tersudut
Terpojok
Bagaimana aku bisa maju
Jika kalian terus menekanku
Abaikan saja aku
Lakukan saja sendiri
Aku bukan barang investasi!

~Ada saatnya aku tak bisa menerima semua

Selasa, 16 Agustus 2016

Memahami. Sulitkah?

Sebenarnya lebih sulit memahami orang lain atau diri sendiri?
Ada orang yang suka diperhatikan, dan ada yang lebih senang diabaikan. Dan itu tentu saja pada situasi tertentu. Saat seseorang itu ingin ditemani atau lebih ingin sendiri.
Terkadang kita yang egois. hanya ingin orang lain yang memahami kita. Mengerti keinginan kita. tapi kita tidak ingin atau berusaha untuk memahami orang lain. Bersikap seenaknya. Memangnya kita hanya hidup sendiri? Mengabaikan perasaan orang lain, lalu merasa dirinya sendiri adalah orang yang paling malang dan tidak beruntung sedunia. Huh! Manusia macam apa itu.

~catatan ditengah kebimbangan

Kamis, 11 Agustus 2016

Aku Takut...

   Aku takut
   Saat aku bukanlah diriku
   Bertopeng malaikat, berhati keparat
   Bersikap manis yang dibuat-buat
Aku takut
Bila aku menjadi pengikut
Meniru gaya hidup lalu terpuruk
Tanpa sadar jalan yang buruk
   Aku lebih takut
   Ketika ku sadar namun tetap menurut
   Mengikuti aliran yang tak terpaut
   Membuat keyakinan semakin surut
Dan aku juga takut
Saat maut daang menjemput
Namun bekalku tak kunjung bertumpuk
Tidak siap untuk dituntut
   Aku takut, jika aku bukan lagi penakut

Minggu, 07 Agustus 2016

Yang Disalahkan

Berada dalam waktu dan situasi yang tidak tepat
Memaksa pikirannya berpikir cepat
Tak mungkin dirinya mengakui
Pikiran berkelit mencari solusi
Lalu karena aku yang menonjol di sini
Dirinya membuatku seperti penjahat asli

Tentu saja bukan. Bukan aku yang salah
Aku hanya mengalah
Atau aku memang hanya pura-pura membenarkan diri?
Untuk menutupi "akulah si penjahat sejati"?

Lalu haruskah kita menyalahkan waktu
Yang membuat kau dan aku bertemu
Karena solusi tak kunjung tiba
Haruskah kita bilang ini takdir adanya

Ah! itu kau saja yang tak mau berusaha
Baiklah, aku juga. Makanya menyalahkanmu
Masalah ini akan berakhir bila kita berhenti saling menyalahkan
Jadi, siapa yang salah?
Ah, sudahlah! Aku menyerah!

Idealisme Zaman Ini

Idealisme zaman ini
Bagai hilang bersembunyi
Bukan takut menampakkan diri
Namun tak bisa menyesuaikan diri
   Idealisme zaman ini
   Ingin daku menjunjung tinggi
   Membenarkan. Mendengarkan keinginan hati
   Namun pikiran menutupi
Apa gunanya idealisme zaman ini?
Ketika realistis lebih berarti
Lebih bisa menghidupi diri
Walau hati menentang lagi
   Karena idealisme zaman ini
   Hanya sedikit yang meyakini
   Beberapa yang memahami
   Betapa sulitnya idealisme di zaman ini

Sabtu, 06 Agustus 2016

Unknown

Siapa Aku

Kadang dikala sendiri aku berpikir
Siapa aku?
Aku melakukan ini dan itu tanpa tahu
Bahkan dikeramaian aku masih berpikir
Siapa aku? apa tujuanku?
   Berkali-kali ku dengar ceramah
   Lalu mendapat hidayah
   Setelah pulang ke rumah
   Aku tak ingat apa itu dosa
Sebenarnya aku dan kamu sama
Dalam hati kecil ingin berbuat baik
Namun tetap saja selalu ada sisi negatif
Yang menghalangi sisi positifku
Dan kalian pasti tahu
Sisi negatifku akhirnya mendominasiku
   Setan. Selalu saja mereka jadi kambing hitam
   Bukan! Bukan karena mereka memang buruk
   Tapi kita yang menyalahkan mereka atas kejahatan yang kita lakukan
   Seakan-akan semua kebaikan lahir dari diri kita
Balik lagi pada diriku
Hingga akhirnya aku masih belum tahu
Apa manfaatku, apa tujuanku, bermaknakah aku?
Dan kini aku masih mencari tahu
Siapa diriku

Bila ku Tahu Misteri Masa Depanku

Misteri Masa Depanku

Hari esok adalah misteri
Bahkan sejam atau sedetik lagi
Penuh teka-teki
Karena hal ini
Kecemasan menghampiri
   Akankah semua baik-baik saja?
   Berjalan sesuai rencana?
   Bisa jadi, bisa tidak!
   Kenapa begini?
   Harusnya hasil sejalan dengan usaha
   Namun siapa yang bisa menjamin semua?
Namun aku bersyukur itu jadi misteri
Aku masih bisa berusaha
Tidak kecewa sebelum mencoba
Tidak takut menunggu lusa
Walau pada akhirnya tidak terlaksana
Bukankah semua akan baik pada akhirnya?
   Dan aku bersyukur esok adalah misteri
   Karena aku tak perlu menangis sekarang
   Untuk luka yang terjadi di masa mendatang
   Aku bersyukur, aku masih punya harapan

Jumat, 05 Agustus 2016

Cinta / Benci?



My opinion
Cinta dan Benci
            Banyak yang berkata bahwa cinta dan benci itu tampak sangat berbeda, namun perbedaannya setipis kertas. Awalnya aku tidak percaya mendengar kata itu. namun lama kelamaan aku mengerti kenapa banyak orang yang mengatakan itu. experience is the best teacher, right? bukankah kita tidak perlu memiliki alasan untuk cinta atau benci pada seseorang? Saat kita menyukai seseorang, tidak peduli apakah orang itu berperilaku buruk, kita akan menyukai semua yang ada pada orang itu. dan saat kita membenci seseorang, betapapun baiknya orang itu dan walau yang dia lakukan tidak salah, kita tetap saja membencinya. Cinta dan benci pada seseorang, akan terjadi saat kesan pertama bertemu orang tersebut. Yah, mungkin saat itu kita hanya tahu dari luarnya saja. belum mengenalnya lebih dekat. Walau mungkin juga saat kita sudah mengenalnya lebih dekat perasaan cinta atau benci itu tidak berubah. Dan saat ini, kenapa aku berpikiran bahwa cinta dan benci itu sangat tipis?
            Benci. Kenapa aku harus membahas benci dulu bukan cinta? entahlah, mungkin karena pengalaman. Kalian tahu drama atau sinetron kan? Aku lebih suka jalan drama yang mengisahkan tentang dua orang yang pada awalnya saling membenci, namun orang tua mereka setuju jika mereka bersama. Daripada kisah tentang percintaan yang hubunganya ditentang. Aku pikir lebih menyedihkan kisah yang kedua, lebih banyak air mata, lebih banyak tidak bisa bersama karena orang tua mereka berusaha untuk memisahkannya. Walau mungkin pada akhirnya akan happy ending. Berbeda dengan kisah yang awalnya saling membenci dan orang tua mereka setuju. Mungkin orang tua memang tidak bisa selalu memaksakan keinginanya pada anaknya. Tapi entah kenapa dalam drama tersebut mereka malah ditakdirkan selalu bertemu dalam kondisi dan situasi apapun. Banyak hal konyol dan lucu terjadi saat jalan kisah drama seperti ini. Lama-kelamaan hati mereka berubah dan saling jatuh cinta yang pada awalnya tidak mereka sadari. Mereka mati-matian menyangkal bahwa mereka sudah saling mencintai. Tapi pada akhirnya saat tidak saling bertemu, mereka baru sadar bahwa mereka merindukannya. Rindu bagian dari cinta kan? Tentu saja lebih banyak tawanya dalam drama bergenre itu. Kebalikan dengan kisah seseorang yang saling mencintai tapi malah dalam drama tersebut banyak menangisnya karena orang tua mereka tidak merestuinya, dan hal itu memang sudah di setting oleh sang sutradara dengan bergenre mellowdrama. Yah itu semua memang sudah diatur oleh sang sutradara dan mereka hanya perlu melakukannya. Dalam kehidupan nyata, kehidupan kita semua sudah diatur oleh sang pencipta.
            Back to topic. Jadi pada intinya saat seseorang sangat mencintai orang lain dan rela melakukan apapun demi orang yang dicintainya. Lalu pada suatu hari orang yang dicintainya itu mengkhianatinya dan menyakitinya, bukankah mereka akan saling membenci? Saling menjauh. Disaat yang sama, orang yang terlalu membenci orang lain-dalam hal ini lawan jenis, akan selalu mencari cara agar tidak bertemu orang itu, memikirkan betapa hal yang dilakukan orang yang dibencinya itu sangat membuatnya kesal. Lalu lama-kelamaan karena terlalu sering memikirkannya, dia akan mencari tau apa yang dia suka dan di mana ia tinggal, karena pada awalnya ia melakukan itu untuk menghindarinya agar tidak bertemu. Tapi setelah mengenalnya lebih jauh. Mereka tiba-tiba sadar, “mengapa aku melakukan ini?” sekarang mereka malah tau semua tentangnya dan orang itu selalu ada di pikirannya. Mereka akan berusaha menyangkalnya. Tapi pada akhirnya saat orang itu bersama orang lain atau menghilang dari kehidupannya, mereka baru sadar bahwa ia mencintainya.
            Jadi pada intinya,kalian tau kenapa cinta dan benci perbedaanya tipis? Karena selangkah ke depan dari membenci seseorang, maka kamu bisa mencintai orang itu. bukankah cinta dan benci itu memang rumit? Complicated? Seberapa panjangpun sebuah paragraph tidak akan ada habisnya jika membahas hal ini. Jadi kalian sudah tau, sedang cinta atau benci kah kalian pada seseorang?

~pikiran gila saat memikirkannya

Rabu, 03 Agustus 2016

Remaja Versiku

Banyak yang bilang, masa remaja adalah masa yang paling indah. bener ga? menurutku sih juga gitu. terutama saat SMA. ga cuma masalah cinta aja kan yang bisa bikin kita bahagia. bukan begitu? *bukaaan!!! (gubrak!). walau masalah itu mempunyai cerita yang paling banyak di SMA. lalu masalah tentang sahabat dan pencarian jati diri. ok, inilah sudut pandangku mengenai remaja, yang dimana saat ini aku masih mengalaminya. sebenernya tulisan ini sebelumnya aku kirimin ke majalah sekolah, tapi ditolak huhu :(
but still, enjoy readings!



Remaja


Kami bukan anak kecil yang manja
Juga belum menjadi dewasa
Banyak hal yang baru kami ketahui
Itu semua untuk mencari jati diri

Kami sangat mudah terluka
Walau hanya dari seucap kata
Kami pun mudah untuk tertawa
Walau sama sekali tak ada yang jenaka

Orang dewasa menuduh kami labil
Katanya mudah goyah dan tidak stabil
Lalu mengarahkan kami pada hal baik menurut mereka
Sedangkan mereka tahu kami tak suka

Kami dalam proses pembelajaran
Belajar menerima kehidupan
Belajar menerima kenyataan
Walau sebenarnya tak diharapkan

Dan saat rasa gundah menjelma
Hal buruk dan baik datang dengan tiba-tiba
Memaksa kami menerima segalanya
Beban yang menghimpit semakin terasa

Saat itu kami tak tahu harus apa
Terluka dan bahagia di saat yang sama
Tapi itu semua tak mengapa
Kami akan menghadapinya…
Karena kami masih remaja